Puncak Tabut Bengkulu 9-10 Muharam 2023, Akan Dijadikan Hari Besar Daerah Bengkulu

Bengkulu, beritakita1.click – Pemerintah Provinsi Bengkulu merencanakan peringatan puncak Tradisi dan Festival Tabut 2023 sebagai Hari Besar Daerah bidang Budaya.

Pembahasan ini terungkap dalam rapat besar persiapan ritual dan perayaan festival Tabut Bengkulu 2023 yang langsung dipimpin Sekretaris Daerah Provinsi Bengkulu Drs. Hamka Sabri, M.Si.

Diungkapkan Sekda Hamka, pertimbangannya adalah Festival Tabut 2023 sudah masuk ke tiga kali dalam Kalender Event Nasional sejak tahun 2019 di Kementerian Pariwisata, yang mana festival ini sempat ditiadakan selama dua tahun pada masa covid-19, sedangkan ritual Tabut Sakral hanya terbatas pada Keluarga Tabut.

“Wacana menjadikan puncak ritual dan festival Tabut 2023 sebagai Hari Besar Daerah Bengkulu Bidang Budaya tentunya menjadi sebuah langkah baik untuk pengembangan potensi pariwisata Bengkulu. Kita ketahui selama ini setiap tahun di hari puncak Tabut, masih dibuat kebijakan hari kerja fakultatif karena bukan hari libur” ungkap Hamka pada Rapat di Ruang Pola, Senin (19/6).

“Nanti kita minta Biro Organisasi bersama Biro Hukum untuk mengkaji khusus rencana penetapan Tabut sebagai Hari Besar Daerah Bidang Budaya, dan waktunya masih memungkinkan karena masih satu bulan lagi” tambah Hamka.

Tabut di tahun 2023 juga digadangkan sebagai Event berkelas internasional sebagaimana pernah disebutkan Menteri Pariwisata Sandiaga Uno saat menghadiri Festival Tabut 2022 yang lalu. Maka dari itu Sekda Provinsi Bengkulu juga mengatakan perayaan Tabut sebagai icon budaya Bengkulu saat ini bukan saja milik Kota Bengkulu, tapi juga milik seluruh Kabupaten di Provinsi Bengkulu dan nantinya diminta juga Kabupaten berpartisipasi mengisi rangkaian festival tabut 2023.

Wacana penetapan puncak perayaan ritual dan festival Tabut sebagai Hari Besar Daerah Bengkulu mendapat dukungan besar dari tokoh-tokoh terutama dari Keluarga Kerukunan Tabut (KKT).

Seperti diungkapkan oleh Ir. Syafril Syahbudin yang sangat gembira menyambut penetapan Tabut sebagai Hari Besar Daerah Bengkulu.

“Setuju sekali, tanggal 9 -10 Muharam itu dijadikan hari libur (Hari Besar Daerah Bengkulu-red), kalau 10 Muharam itu sudah jelas hari puncak ritual Tabut. Tinggal yang tanggal 9 Muharam itu adalah “Gham” sebenarnya itulah yang paling sakral dan paling krusial bagi Islam (sebagai hari berkabung), tetapi banyak orang tidak tahu, kita akan upayakan untuk mengusulkan ke Bapak Gubernur” ungkap Syafril.

Sementara tokoh budaya Bengkulu yang juga Keluarga Kerukunan Tabut (KKT) H. Rolly Gunawan, S.Sos.I, MH mengatakan sesuai sekali wacana penetapan Tabut sebagai Hari Besar Daerah Bengkulu.

“Kalau model yang itu, kecek datuk kito dulu itu suai nian (sesuai sekali)”ungkap H. Rolly dalam dialek Bengkulu.

“Geliat budaya ini kita giatkan, kalau tidak diliburkan, anak-anak ko kan dak pacak nengok, jadi siapo lagi yang pacak meramikan kalo idak kito dulu., dan orang-orang akan bertandang kareno meraso terpanggil, kito dulu yang harus semangat. Kalo idak kito siapo lagi, kalo idak kini kebilo lagi” papar H. Rolly bersemangat.

“Untuk Gham masa berkabung bisa digunakan untuk hal-hal yang bermanfaat, bisa untuk evaluasi diri, mengingat dengan dizikir, do’a dan kegiatan lainnya” ujar H. Rolly.

Senada dengan Syafril dan H. Rolly, dukungan penetapan puncak Tabut 2023 sebagai Hari Besar Daerah Bengkulu juga datang dari Tokoh Muda Tabut Bengkulu, Idramsyah sebagai Ketua KKT Budaya yang berperan besar dalam giatnya Festival Tabut, khususnya Tabut Pembangunan.

“Kalo sayo setuju-setuju nian, pasti akan lebih padek lagi di hari-hari puncak Tabut itu benar-benar di liburkan, baik PNS, anak-anak sekolah dan pihak lainnya. Karena selamo ini idak diliburkan jugo anak-anak sekolah itu malah membolos untuk menonton Tabut” ungkap Idramsyah.

Idramsyah melanjutkan, terkait hari Gham, atau hari berkabung itu sebenarnya diwajibkan hanya kepada keluarga Tabut saja. Dalam arti dari pagi hari sampai pukul empat sore, berdiam diri dari segala aktifitas.

Namun apabila ada masyarakat yang juga ikut dalam ritual Gham, tentu itu adalah hal yang baik dan memperkuat nilai-nilai keluhuran dari peringatan Tabut.

“Kalau Gham saya rasa bukan untuk masyarakat, Gham itu untuk keluarga Tabut, pada hari itu hari tenang, hari berkabung, tidak boleh makan bedarah, misalnya ayam, ikan, sampai hari pembuangan tabut, atau disebut hari Tabut naik pangkek, itu tidak diperbolehkan makan yang bedarah, itu khusus untuk keluarga tabut. Tapi kalau masyarakat menghendaki juga mengikuti Gham itu, tentu tidak jadi masalah, tambah elok, idak jadi masalah” tutup Idramsyah.

Diketahui dahulunya ritual Tabut di Bengkulu merupakan pintu masuknya syiar agama Islam di Bengkulu yang telah berlangsung selama ratusan tahun untuk mengenang syahidnya cucu Nabi Muhammad SAW, Husein bin Ali bin Abi Thalib.

Ritual Tabut ini pertama kali dikenalkan ke masyarakat Bengkulu pada tahun 1685 oleh keturunan generasi Zuriat atau Sayid di Bengkulu yaitu Syah Bedan dan keponakannya Syeh Burhanuddin atau dikenal dengan panggilan Imam Senggolo XII yaitu keturunan dari Syech Abdurrahman dari rombongan Zuriat atau Sayid Ahlul Bait Rasululullah SAW yang dipimpin oleh Imam Maulana Ichsad setelah singgah di Aceh dan berlanjut ke Bengkulu.

Di masa kepemimpinan Gubernur Bengkulu Rohidin Mersyah, sejak tahun 2018 event Tabut Bengkulu yang penuh dengan nilai-nilai tinggi sakral budaya daerah, didukung secara penuh sampai berhasil masuk dalam 100 Top Event Nasional tahun 2019.

Seterusnya sampai tahun 2023 ini masuk dalam penetapan Kalender Event Nasional atau di singkat KEN Kementerian Pariwisata Republik Indonesia.

Tercatat setiap event Tabut Bengkulu berhasil mendatangkan wisatawan nasional dan internasional mencapai ratusan ribu orang yang berkunjung ke Bengkulu.

Penulis : Rillis

Editor : Melinda